padatahun 1800 karena berbagai permasalahan yang membebani perusahaan. Meskipun ekonomi Belanda meningkat kembali melalui sistem pajak tanah, perimbangan anggaran pemerintah telah terbebani dengan luar biasa atas pengeluaran-pengeluaran seperti Perang Diponegoro di Jawa dan Perang Padri di Sumatra, serta perang melawan Belgia pada tahun 1830 membawa Belanda ke jurang kebangkrutan. - Perang Padri adalah sebuah peristiwa sejarah yang melibatkan kelompok ulama yang disebut Kaum Padri dengan Kaum Adat di kawasan Kerajaan Pagaruyung dan sekitarnya. Perang Padri diketahui terjadi di Sumatera Barat, tepatnya di wilayah Kerajaan Pagaruyung pada tahun juga Apa Itu Strategi Winning the Heart pada Masa Perang Padri? Semula Perang Padri adalah perang saudara yang kemudian berakhir menjadi perang melawan pemerintahan pemerintah kolonial Belanda. Baca juga Biografi Singkat Tuanku Imam Bonjol dan Sejarah Perang Padri Salah satu tokoh dari peristiwa Perang Padri yang terkenal adalah Tuanku Imam Bonjol. Baca juga Strategi Belanda dalam Perang Padri Penyebab Perang Padri Perang Padri pada mulanya disebabkan adanya perbedaan prinsip mengenai ajaran agama antara Kaum Padri dengan Kaum Adat. Pertentangan terjadi karena kaum Padri atau kelompok ulama ingin mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk yang ada di masyarakat Kaum Adat. Bermula dari kepulangan tiga orang Haji dari Mekkah sekitar tahun 1803, yaitu Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang yang ingin memperbaiki syariat Islam yang belum sempurna dijalankan oleh masyarakat Minangkabau. Dalam buku Sejarah Indonesia Modern, 1200-2004 2005 karya Merle Calvin Ricklefs, Gerakan pembaruan Islam tersebut dikenal sebagai gerakan Padri karena mereka telah menunaikan ibadah haji di Makkah. Diketahui kebiasaan Kaum Adat dalam kesehariannya waktu itu dekat dengan judi, sabung ayam, minuman keras, tembakau, serta penggunaan hukum matriarkat untuk pembagian warisan. Sebelum pertentangan ini terjadi, sudah terjadi perundingan antara Kaum Padri dengan Kaum Adat yang tidak menemukan kata sepakat. Sehingga meskipun Kaum Adat sudah pernah berkata akan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan tersebut, namun nyatanya mereka masih tetap menjalankannya. Hal tersebut yang membuat Kaum Padri marah dan beberapa nagari dalam Kerajaan Pagaruyung bergejolak. Perang Padri kemudian meletus sebagai perang saudara dan melibatkan Suku Minang dan Mandailing. Pada masa perang tersebut, Kaum Padri dipimpin oleh Harimau Nan Salapan sementara kaum Adat dipimpin Sultan Arifin Muningsyah. Kronologi Perang Padri Setelah Kaum Padri melakukan berbagai cara untuk mengajak masyarakat adat meninggalkan perbuatan maksiat dan mengikuti syariat Islam, meletuslah perang pada tahun 1803. Puncak perang saudara ini terjadi pada tahun 1815, di mana Kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang Kerajaan Pagaruyung sehingga pecah peperangan di Koto Tangah. Serangan ini menyebabkan Sultan Arifin Muningsyah terpaksa menyingkir dan melarikan diri dari ibu kota kerajaan, dan Kaum Padri berhasil menekan kaum adat. Saat itu Kaum Padri dipimpin oleh Tuanku Nan Renceh, Tuanku Pasaman, Tuanku Rao, Tuanku Tambusai, Tuanku lintau, Tuanku Mansiangan, Tuanku Pandai Sikek, dan Tuanku Barumun, atau lebih dikenal dengan sebutan Harimau nan Salapan. Kepemimpinan Harimau nan Salapan hampir membawa Kaum Padri kepada kemenangan dalam perang ini. Wikimedia Commons Ilustrasi Perang Padri yang berlangsung sejak 1803-1838 Namun kemudian pada tahun 1821 Kaum Adat yang terdesak meminta bantuan pada pemerintah Kolonial Belanda. Pada tanggal 4 Maret 1822, pasukan Belanda dibawah pimpinan Letnan Kolonel Raaff berhasil memukul mundur Kaum Padri keluar dari Pagaruyung. Kemudian Belanda membangun benteng pertahanan di Batusangkar dengan nama Fort Van der Capellen, sedangkan Kaum Padri menyusun kekuatan dan bertahan di Lintau. Pada tanggal 10 Juni 1822 pergerakan pasukan Belanda di Tanjung Alam dihadang oleh Kaum Padri, namun pasukan Belanda dapat terus melaju ke Luhak Agam. Pada tanggal 14 Agustus 1822 dalam pertempuran di Baso, yang membuat pemimpin pasukan Belanda yaitu Kapten Goffinet menderita luka berat kemudian meninggal dunia pada 5 September bulan September 1822 pasukan Belanda terpaksa kembali ke Batusangkar karena terus tertekan oleh serangan Kaum Padri yang dipimpin oleh Tuanku Nan Renceh. Pada 13 April 1823, setelah mendapat tambahan pasukan maka Letnan Kolonel Raaff mencoba kembali menyerang Lintau. Namun Kaum Padri dengan gigih melakukan perlawanan, sehingga pada tanggal 16 April 1823 Belanda terpaksa kembali ke Batusangkar. Pada tahun 1824, raja terakhir Minangkabau yaitu Yang Dipertuan Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah kembali ke Pagaruyung atas permintaan Letnan Kolonel Raaff, namun pada tahun 1825 beliau wafat dan kemudian dimakamkan di Pagaruyung. Pada 15 November 1825, disepakati Perjanjian Masang yaitu periode gencatan senjata yang disepakati antara pasukan Belanda dengan Kaum Padri yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Saat itu memang posisi Pemerintah Hindia Belanda tegah kewalahan karena menghadapi berbagai perang baik di daerah Eropa dan Jawa Perang Diponegoro yang menguras dana pemerintah. Selama periode gencatan senjata inilah Tuanku Imam Bonjol mencoba memulihkan kekuatan dan merangkul kembali Kaum Adat. Sehingga akhirnya muncul suatu kesepakatan yang dikenal dengan nama "Plakat Puncak Pato" di Bukit Marapalam, Kabupaten Tanah Datar. Kesepakatan ini berbunyi "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah" yang artinya "adat Minangkabau berlandaskan kepada agama Islam, dan agama Islam berlandaskan kepada Al-Qur'an" dan menjadi puncak revolusi Islam dalam adat Minangkabau. Perang saudara yang berlangsung dari tahun 1803 hingga tahun 1821 dan telah merugikan kedua belah pihak baik harta maupun korban jiwa pun berakhir. Berakhirnya perang Diponegoro mengembalikan kekuatan Belanda yang kembali mencoba untuk menundukan Kaum Padri. Keinginan kuat Belanda untuk menguasai perkebunan kopi di kawasan pedalaman Minangkabau membuat mereka melanggar perjanjian yang telah dibuat sebelumnya dengan menyerang nagari Pandai Sikek. Diketahui nagari Pandai Sikek adalah daerah yang mampu memproduksi mesiu dan senjata api. Belanda juga membangun benteng Fort de Kock di Bukittinggi untuk memperkuat kedudukannya. Shutterstock/KiwiGraphy Studio Benteng Fort de Kock, di Bukittinggi, Sumatera Barat. Pada tanggal 11 Januari 1833, Kaum Padri dan Kaum Adat yang telah bersatu melakukan penyerangan pada beberapa kubu pertahanan dari garnisun Belanda. Belanda yang menyadari keadaan telah berubah kemudian mengeluarkan "Plakat Panjang" berisi pernyataan bahwa kedatangan Belanda ke Minangkabau tidak bermaksud untuk menguasai nagari tersebut, melainkan untuk berdagang dan menjaga keamanan. Sebagai Belanda alasan bahwa untuk menjaga keamanan, membuat jalan, membuka sekolah akan memerlukan biaya, maka penduduk setempat diwajibkan menanam kopi dan menjualnya kepada Belanda. Perlahan-lahan Belanda menyusup dan melakukan penyerangan hingga pada tahun 1837 Benteng pertahanan Tuanku Imam Bonjol dapat dikuasai Belanda. Bahkan Tuanku Imam Bonjol berhasil ditipu dan ditangkap. Peperangan berlanjut sampai akhirnya benteng terakhir Kaum Padri di Dalu-Dalu Rokan Hulu yang dipimpin oleh Tuanku Tambusai jatuh ke tangan Belanda pada 28 Desember 1838. Perang Padri pun dianggap selesai dengan kemenangan jatuh ke pihak Kolonial Belanda, sementara Tuanku Tambusai bersama sisa-sisa pengikutnya terpaksa pindah ke Negeri Sembilan di Semenanjung Malaya. Kerajaan Pagaruyung akhirnya menjadi bagian Pax Netherlandica di bawah kendali Hindia Belanda. Dampak Perang Padri Perang Padri yang berlangsung selama sekitar 20 tahun pertama perang itu 1803-1821 praktis memakan korban dari sesama Kaum Padri dan Kaum Adat yaitu orang Minangkabau dan Batak Mandailing. Dampak yang langsung dirasakan setelah Perang Padri adalah jatuhnya Kerajaan Pagaruyung atau wilayah Sumatera Barat ke tangan Kolonial Belanda. Selain itu, Tuanku Imam Bonjol yang tak sudi untuk menyerah kepada Belanda harus ditangkap dan dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Dalam pengasingan tersebut Tuanku Imam Bonjol sempat dipindahkan ke Ambon dan akhirnya ke Lotak, Minahasa, dekat Manado dan meninggal dunia pada tanggal 8 November 1864. Namun dampak Perang Padri bagi penduduk setempat pada akhirnya adalah lahirnya persatuan para pemimpin tradisional dan agama. Sumber Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Dilansirdari Ensiklopedia, perlawanan rakyat diberbagai daerah seperti perang paderi, perang dipenogoro, perang banjar, dan sebagainya pada masa penjajahan gagal mengusir penjajah dari indonesia berikut yang merupakan penyebab kegagalan perjuangan pada masa tersebut yaitu tergantung pada satu pimpinan, mengandalkan kekuatan fisik, bersifat - Perang Padri yang terjadi di Sumatera Barat berlangsung mulai tahun 1803 sampai tahun 1838. Perlawanan yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol ini disebut Perang Padri karena dimulai dari perselisihan antara golongan ulama atau kaum Padri dengan kaum adat. Semula, peperangan ini hanya melibatkan penduduk Minang dan Mandailing. Namun pada akhirnya, Belanda mulai ikut campur hingga berubah menjadi perang mengapa Perang Padri kemudian meluas menjadi perang kolonial? Kronologi Perang Padri Penyebab timbulnya Perang Padri adalah adanya perselisihan antara kaum Padri dan kaum adat. Kaum Padri, yang bertujuan untuk memurnikan pelaksanaan agama Islam, mengutuk kebiasaan buruk di masyarakat yang bertentangan dengan ajaran agama. Kebiasaan buruk yang dimaksud seperti minum tuak, berjudi, menyabung ayam, dan perbuatan tidak baik lainnya. Permasalahan ini sempat diupayakan untuk diselesaikan secara damai melalui perundingan, tetapi selalu gagal. Alhasil, meletuslah Perang Padri pada 1803, di mana kaum Padri dipimpin oleh Harimau Nan Salapan dan kaum Adat dipimpin oleh Sultan Arifin Muningsyah, yang merupakan Raja Pagaruyung. Pada 1815, kaum Padri yang dipimpin oleh Tuanku Pasaman berhasil meruntuhkan Kerajaan Pagaruyung dan membuat Sultan Arifin Muningsyah melarikan diri. Baca juga Perang Padri, Perang Saudara yang Berubah Melawan Belanda Keterlibatan Belanda Hingga tahun 1821, Perang Padri dapat disebut sebagai perang saudara yang melibatkan penduduk Minang dan Mandailing. Pergolakan yang telah berlangsung selama hampir dua dekade itu membuat kubu kaum Adat semakin terdesak. Untuk melawan kaum Padri, pada 10 Februari 1821, Sultan Alam Bagagarsyah, raja terakhir Pagaruyung, terpaksa menandatangani perjanjian dengan Belanda, yang kemudian dianggap sebagai bentuk penyerahan. Dalam perjanjian itu, Belanda berjanji membantu perang melawan kaum Padri dan sultan akan menjadi bawahan pemerintah pusat. Tidak lama kemudian, Belanda mulai membantu kaum Adat dengan melancarkan serangkaian serangan kepada kaum Padri. Karena pertempuran berjalan sangat alot, pada 1825 Belanda terpaksa mengajak Tuanku Imam Bonjol, yang memimpin perlawanan kaum Padri saat itu, untuk melakukan gencatan Perang Diponegoro di Jawa berakhir, Belanda kembali aktif melancarkan serangan. Belanda bahkan berusaha menaklukkan kaum Padri dengan mendatangkan pasukan dari Jawa dan Maluku. Baca juga Kerajaan Pagaruyung Sejarah, Letak, Pendiri, dan Peninggalan Berubah menjadi perang kolonial Selama periode gencatan senjata, Tuanku Imam Bonjol mencoba untuk bersatu dengan kaum Adat dalam melawan Belanda. Langkah tersebut membuahkan hasil, dan pada akhir 1832 kedua kubu melakukan persetujuan di lereng Gunung Tandikat. Hal itu membuat Sultan Alam Bagagarsyah ditangkap oleh Belanda pada 1833 atas tuduhan pengkhianatan dan dibuang ke Betawi. Tidakan Belanda terhadap sultan membuat kaum Adat marah dan akhirnya bangkit melawan penjajah. Perang Padri semula merupakan perang saudara kemudian berubah menjadi perang kolonial karena kaum Adat dan kaum Padri bersatu menghadapi Belanda. Saat itu, pemimpin umum Perang Padri masih tetap dipegang oleh Tuanku Imam Bonjol. Sayangnya, berbagai serangan yang dilancarkan penduduk Minangkabau dapat diredam oleh Belanda yang terus mendapatkan dukungan dari Batavia. Pada 1837, Benteng Bonjol dapat dikuasai dan Tuanku Imam Bonjol akhirnya menyerah. Pasca pengasingan Tuanku Imam Bonjol, Perang Padri masih sempat dilanjutkan dan dipimpin oleh Tuanku Tambusai. Akan tetapi, semua perlawanan rakyat Minangkabau berhasil ditumpas oleh Belanda. Jatuhnya Tuanku Tambusai pada 28 Desember 1838, kemudian menandai akhir Perang Padri yang dimenangkan oleh pihak Belanda. Referensi Ruspandi, F. 2011. Perang Padri. Jakarta Be Champion. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Perangmasih terus berlanjut hingga pertahanan terakhir Kaum Padri, di Rokan Hulu, dikalahkan oleh Belanda pada tahun 28 Desember 1838. Tuanku Tambusai yang waktu itu memimpin Rokan Hulu terpaksa mundur dan pindah ke Negeri Sembilan yang terletak di Semenanjung Malaya. Semua perlawanan rakyat Minangkabau berhasil ditumpas oleh Belanda. Mahasiswa/Alumni Institut Teknologi Bandung03 Juni 2022 1140Jawaban yang benar adalah tergantung pada satu pemimpin, mengandalkan kekuatan fisik, bersifat kedaerahan. Pembahasan Perlawanan rakyat Indonesia mulai banyak muncul ketika para penjajah Eropa selalu berbuat sewenang-wenang dan menindas rakyat daerah jajahan nya tersebut. Perlawanan ini terjadi di hampir seluruh wilayah Nusantara, seperti Perang Padri, Perang Diponegoro, Perang Banjar, dan sebagainya. Akan tetapi perlawanan-perlawanan tersebut gagal mengusir penjajah dari Indonesia. Berikut merupakan penyebab kegagalan perjuangan rakyat Indonesia dalam mengusir penjajah 1. Perlawanan masih bergantung terhadap satu pemimpin. 2. Masih mengandalkan kekuatan fisik. 3. Bersifat kedaerahan. Simpulan Dengan demikian, jawaban yang benar adalah tergantung pada satu pemimpin, mengandalkan kekuatan fisik, bersifat kedaerahan.
b irigasi telah memajukan pertanian khususnya di Jawa c. perpindahan penduduk telah mengangkat kesejahteraan kaum miskin d. kemajuan ekonomi akibat politik kolonial liberal 14. Perlawanan rakyat di berbagai daerah seperti Perang Padri, Perang Diponegoro, Perang Banjar, dan sebagainya pada masa penjajahan gagal mengusir penjajah dari Indonesia.
Perang Padri merupakan salah satu bentuk perlawanan rakyat pada masa pendudukan Belanda. Namun, tahukah kamu kalau awal mula permasalahannya berasal dari peperangan antar saudara? Kalau penasaran ingin mengetahui ulasannya lebih lanjut, mending langsung cek saja artikel sejarah Perang Padri berikut masa pendudukan Belanda, terjadi perlawanan rakyat di berbagai daerah. Penyebabnya tak lain dan tak bukan karena kehidupan rakyat yang semakin menderita. Salah satu perlawanan dalam sejarah pendudukan Belanda berasal dari Sumatra Barat yang kemudian dikenal dengan Perang perang tersebut sudah terjadi mulai tahun 1803. Pada mulanya merupakan pertempuran sesama saudara. Akan tetapi, Belanda masuk dan membuat permusuhan itu semakin kemudian, kedua belah pihak yang bertempur itu menjadi satu dan berbalik melawan Belanda. Kira-kira seperti apa kronologinya? Daripada kebanyakan basa-basi, kamu bisa langsung saja membaca sejarah lengkap Perang Padri di bawah ini, ya!Sejarah Latar Belakang Terjadinya Perang Padri Kaum AdatSumber Wikimedia Commons Sebelum membahas lebih lanjut mengenai sejarah perang antara rakyat Sumatra Barat melawan Belanda, tidak ada salahnya untuk menyimak latar belakang terjadinya peristiwa tersebut. Salah satu peperangan terlama di Indonesia tersebut bermula dari perseteruan antara kaum Padri dan kaum Adat. Terbentuknya Kaum Padri dan Kaum Adat Latar belakang sejarah bermulanya Perang Padri bermula dari berkembangnya paham Wahabi yang dipelajari oleh pemuka agama atau kaum terpelajar. Baik itu pada saat menunaikan ibadah haji atau memang berniat untuk belajar agama di Arab Saudi. Sepulangnya dari sana, orang-orang tersebut mengalami banyak perubahan. Tidak hanya cara berpakaian yang mengenakan jubah seperti orang Arab saja. Akan tetapi, perubahan terlihat jelas dalam perilaku mereka sehari-hari. Nah, jubah yang dikenakan tersebut kemudian digunakan sebagai identitas yang membedakan pemuka agama dengan rakyat biasa maupun orang-orang Belanda. Dengan kata lain, jubah tersebut merupakan penanda bagi orang yang memiliki tingkatan ilmu agama Islam yang tinggi. Sekitar tahun 1800-an, agama Islam mengalami perkembangan yang bisa dibilang sangat pesat. Hal tersebut kemudian memunculkan dua kubu di masyarakat yang sangat kuat, yaitu kaum Padri dan kaum Adat. Kaum Padri adalah golongan pemuka agama. Mengenai asal-usulnya namanya, padri berasal dari bahasa Spanyol, yaitu “padree” yang berarti pemuka agama. Golongan ini mengemban tujuan mulia untuk menyebarkan agama Islam di Minangkabau, Sumatra Barat. Sementara itu, kubu yang satunya adalah kaum Adat. Sesuai dengan namanya, anggota dari kaum ini adalah mereka yang masih memegang tegus adat istiadat dan tradisi leluhur. Meskipun begitu, sebagian besar dari mereka sudah masuk Islam. Baca juga Mengenal Lebih Dekat dengan Sosok Sultan Suriansyah, Pendiri dari Kerajaan Banjar Munculnya Permusuhan Antara Kaum Padri dan Kaum Adat Sumber Wikimedia Commons Benih-benih perang mulai tumbuh ketika kaum Padri berusaha untuk memurnikan sejarah tradisi atau adat yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Pada waktu itu, tradisi-tradisi yang masih dilakukan oleh kaum Adat memang bertentangan dengan ajaran agama. Contohnya adalah melakukan sabung ayam, suka minum-minuman keras, atau memakai madat. Selain itu, yang membuat kaum Padri miris adalah ibadah wajib tidak dilaksanakan dengan benar oleh kaum Adat. Maka dari itu, para pemuka tersebut ingin mencoba memperbaiki hal tersebut dengan membawa kaum Adat ke arah yang menurut mereka lebih benar. Perdebatan sengit yang lainnya terjadi karena penentuan pembagian waris. Jika menurut budaya Minangkabau yang sudah berlangsung turun temurun, seharusnya pembagian tersebut diambil dari garis keturunan perempuan atau matrilineal. Sementara itu, di agama Islam peraturannya adalah diambil dari garis keturunan laki-laki atau patrilineal. Bahkan, Syekh Ahmad Khatib pun mengutuk budaya matrilineal tersebut. Pada tahun 1803, ada tiga orang haji yang pulang ke Minang. Mereka adalah Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik. Konon, ketiga haji tersebut dulunya pernah menjadi tentara Turki saat terlibat peperangan dengan Kerajaan Prancis. Setelah itu, mereka menemui ulama-ulama yang lain dengan rencana untuk memurnikan rakyat dari adat-adat yang menyimpang dari ajaran agama Islam. Dari pertemuan tersebut, lahirlah Harimau Nan Salapan. Untuk yang belum tahu, Harimau nan Salapan adalah ulama-ulama yang ditunjuk untuk menjadi dewan untuk membersihkan umat dari adat-adat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Anggotanya ada delapan orang, yaitu Tuanku Mansingan, Tuanku nan Renceh, Tuanku Barapi, Tuanku Kapau, Tuanku Lubuk Aur, Tuanku Ladang Lawas, Tuanku Galung, dan Tuanku Padang Luar. Baca juga Peninggalan-Peninggalan Sejarah Era Kerajaan Ternate yang Masih Ada Hingga Sekarang Masalah Semakin Memanas Setelah dewan ulama terbentuk, mereka memulai agendanya untuk “memurnikan” rakyat Minangkabau. Salah satu caranya adalah dengan mengirim seorang ulama bernama Tuanku Lintau supaya membujuk pemimpin kaum Adat untuk sepenuhnya menjalankan syariat Islam. Sang pemimpin, yaitu Yang Dipertuan Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah, tentu saja tidak terlalu menyukai ide tersebut. Karena sesuai dengan prinsip yang dipegangnya, kalau adat istiadat itu harus dipegang teguh. Perseteruan semakin memanas ketika Haji Miskin yang merupakan salah seorang anggota kaum Padri mulai melarang warga untuk melakukan sabung ayam. Ia pun tidak segan-segan untuk membakar arena sabung ayam. Hal tersebut tentu saja membuat kaum Adat marah. Mereka kemudian mengejar dan berusaha menangkap Haji Miskin yang pada saat itu kabur meminta perlindungan kepada Harimau nan Salapan. Pada awalnya, Harimau nan Salapan tersebut melakukan diskusi dengan ulama lain yang bernama Tuanku nan Tuo. Menurutnya, lebih baik memurnikan ajaran Islam dengan menggunakan cara-cara yang halus. Karena kalau menggunakan cara kasar, nantinya malah terjadi peperangan yang tidak akan pernah habis. Namun entah mengapa, pada akhirnya yang disetujui bersama adalah yang menggunakan jalan kekerasan. Maka dari itu, peperangan antar kedua kubu tidak dapat dihindarkan. Baca juga Ulasan Lengkap Mengenai Silsilah Raja-Raja yang Pernah Memimpin Kerajaan Kediri Meletusnya Perang Padri Ilustrasi PerangSumber Wikimedia Commons Menurut catatan sejarah, penyebab meletusnya perang Padri adalah setelah kaum Padri menyerukan jihad untuk melawan kaum Adat. Dengan menggunakan jalur kekerasan, mereka tidak segan-segan untuk membunuh para tetua dan juga membakar rumah-rumah adat. Namun setelah semua itu dilakukan, kaum Adat bergeming. Mereka tetap pada pendirian untuk memegang teguh adat leluhur. Hingga pada tahun 1815, kaum Padri kehilangan kesabaran dan kemudin menyerang Kerajaan Paguruyung. Penyerangan tersebut dipimpin oleh Tuanku Pasaman. Pertempuran hebat pun pecah di Koto Tengah. Kedua kubu tersebut saling serang sehingga banyak sekali korban jiwa berjatuhan. Tak hanya dari rakyat biasa, tetapi juga anggota kerajaan. Karena situasi kerajaan yang sangat kacau, Sultan Arifin Muningsyah kemudian lari untuk menyelamatkan diri. Pasalnya, Istana Paguruyung habis terbakar akibat pertempuran itu dan hanya tersisa puing-puingnya. Mengenai gambaran kondisi tempat tersebut pernah tertulis dalam catatan milik Raffles yang berkunjung ke sana sekitar tahun 1818. Awal Mula Campur Tangan Belanda Kaum Padri tidak kenal lelah untuk melancarkan serangan. Hal tersebut tentu saja membuat kaum Adat menjadi terdesak. Terlebih lagi, Sultan Arifin Muningsyah tidak diketahui keberadaannya. Maka dari itu, dengan diwakili oleh Sultan Tangkal Alam Bagagar, kaum Adat meminta tolong kepada Belanda. Setelah mencapai kesepakatan yang diinginkan, kedua belah pihak secara resmi menandatangani perjanjian itu pada tanggal 21 Februari 1821. Hal tersebut juga berarti bahwa Kerajaan Pagaruyung menjadi milik pemerintah Hinda Belanda. Selanjutnya, Sultan Tangkal Alam diangkat sebagai Regent Tanah Datar. Tak berapa lama kemudian, Belanda mengirimkan pasukannya untuk memukul mundur armada Kaum Padri. Mereka tidak mengirimkan pasukan sampai ke perbukitan hingga pelosok Minang. Pada bulan April 1821, kaum Adat yang berkoalisi dengan Belanda kemudian menyerang wilayah Sulit Air dan Simawang. Penyerangan itu dipimpin oleh Kapten Goffinet dan Kapten Dienema. Pada akhir tahun, dikirimkan lagi pasukan pimpinan Letkol Raff untuk memperkuat pertahanan. Baca juga Bukti Peninggalan-Peninggalan Sejarah dari Kerajaan Gowa-Tallo, Serambi Mekah di Indonesia Timur Peperangan Belanda dan RakyatSumber Wikimedia Commons Gabungan pasukan Belanda dan kaum Adat tersebut baru bisa mengusir pasukan kaum Padri keluar dari Pagaruyung pada tanggal 4 Maret 1822. Kaum ulama itu kemudian menyingkir ke daerah Lintau untuk menyusun rencana pembalasan. Sementara untuk menancapkan kekuasaan, Belanda kemudian membangun Benteng Van De Capellen. Setelah itu, mereka terus melakukan usahanya penyerangan terhadap kaum Padri. Pada awalnya, pasukan Belanda tersebut berhasil membuat kaum ulama kewalahan. Namun, kekuatan mereka melemah ketika Kapten Goffinet meninggal dunia pada bulan September 1822. Hal itu membuat pasukannya harus mundur karena tidak sanggup menghadapi pasukan Padri yang dipimpin oleh Tuanku Nan Renceh. Selanjutnya pada bulan April 1823, Letnan Kolonel Raaff mengerahkan pasukan untuk menyerang Lintau. Peperangan ini berlangsung begitu sengit karena kaum begitu gigih menghalau serangan lawan. Karena tidak membuahkan hasil, pasukan Belanda pun kembali ke Batusangkar. Alasan lainnya adalah karena sang pemimpin meninggal dunia. Di tengah kekisruhan tersebut, sekitar tahun 1824 Sultan Arifin tiba-tiba kembali ke Pagaruyung. Namun, kedatangannya tidak terlalu berpengaruh banyak. Hal tersebut dikarenakan setahun kemudian ia meninggal dunia. Pasukan Belanda masih belum mau menyerah dan kemudian melakukan penyerangan yang dipimpin oleh Mayor Frans Laemlin. Pada bulan September 1824, pasukannya berhasil merebut daera Koto Tuo, Ampang Gadang, Kapau, dan juga Biaro. Sayangnya, sang pemimpin pasukan meninggal dunia di akhir tahun 1824 karena luka parah. Baca juga Ulasan tentang Raden Patah, Sang Pendiri Kerajaan Demak yang Masih Keturunan Ningrat Melakukan Gencatan Senjata Melakukan pertempuran dengan Kaum Padri rupanya membuat Belanda merasa kesulitan. Mereka tidak hanya mengerahkan tenaga saja, tetapi juga menghabiskan dana. Belum lagi, mereka juga harus menghadapi perlawanan di wilayah lain. Karena pertimbangan dana yang sudah semakin menipis, akhirnya Belanda berinisiatif untuk melakukan gencatan senjata dengan Kaum Padri. Untuk yang belum tahu, gencatan senjata adalah kesepakatan bersama antar pihak yang berkonflik untuk menghentikan peperangan. Durasinya bisa saja sementara, tetapi juga bisa dalam waktu yang lebih lama. Pemerintah Hindia Belanda kemudian mengutus residennya yang berada di Padang untuk membuat perjanjian gencatan senjata dengan kaum Padri. Pada waktu itu, kaum golongan ulama berada di bawah kepemimpinan Tuanku Imam Bonjol. Pada tanggal 15 November 1825, kesepakatan antar kedua belah pihak itu resmi ditandatangani. Yang kemudian dikenal dengan nama Perjanjian Masang. Untuk sementara, situasi di Sumatra Barat menjadi lebih terkendali. Akan tetapi, perdamaian tersebut rupanya tidak dapat diterima oleh kaum Adat. Untuk melampiaskan kekecewaaan, mereka kemudian berbalik memusuhi Belanda. Situasi ini kemudian membuat kedudukan Belanda menjadi serba sulit. Pasukan mereka tidak mendapatkan dukungan penuh dari kaum Adat, sementara itu juga tidak dapat menaklukkan Kaum Padri. Tuanku Imam Bonjol Mengajak Kaum Adat untuk Berdamai Nama asli dari Tuanku Imam Bonjol adalah Muhammad Shahab. Ia diangkat menjadi pemimpin kaum Padri setelah Tuanku Nan Renceh meninggal dunia. Meskipun merupakan anggota ulama, laki-laki tersebut sebenarnya tidak terlalu menyetujui tindakan golongannya yang menyerang kaum Adat. Karena bagaimana pun, mereka masih satu saudara. Makanya ketika menjadi pemimpin dan ada celah untuk berdamai dengan kaum Adat, ia menggunakan kesempatan tersebut dengan sebaik mungkin. Terlebih lagi, situasi Belanda memang sedang lemah. Dirinya ingin menyadarkan bahwa yang menjadi musuh sesungguhnya adalah Belanda. Tuanku Iman Bonjol pun mengundang perwakilan kaum adat ke Bukit Marapalam yang terletak di Kabupaten Tanah Datar. Pada awalnya perundingan kedua kubu memang tidak berjalan terlalu baik. Namun akhirnya, kesepakatan bersama yang diimpikan terjadi juga. Kesepakatan itu diberi nama Plakat Puncak Pato. Isinya adalah untuk mewujudkan adat Minangkabau yang berlandaskan agama Islam, dan Islam yang berlandaskan Al-Qur’an. Baca juga Peninggalan-Peninggalan Sejarah yang Membuktikan Keberadaan Kerajaan Banten Sejarah Perang Padri Jilid II Pasukan BelandaSumber Wikimedia Commons Gencatan senjata dalam sejarah Perang Padri yang pertama tidaklah berlangsung lama. Setelah berhasil bangkit dari keterpurukan ekonomi, Belanda pun mengingkari perjanjian yang dibuat. Salah satu alasannya adalah karena mereka ingin menguasai daerah perkebunan kopi di Minangkabau. Kopi merupakan salah satu komoditi andalan milik Belanda. Maka dari itu, mereka ingin menaklukkan kaum Padri supaya lebih leluasa dalam menguasai perkebunan. Sebagai langkah awal, pasukan Belanda kemudian menyerang nagari Pandai Sikek. Selanjutnya, mereka mendirikan sebuah benteng bernama Fort de Kock di Bukittinggi. Dari situ, Belanda terus bergerak untuk menaklukkan daerah-darah basis milik kaum Padri. Tidak hanya daerah Lintau, tetapi juga Luhak Tanah Datar berhasil dikuasai. Hal ini kemudian membuat pihak lawan menjadi kalang kabut. Terlebih lagi, Belanda mendapatkan pasukan tambahan dari Jakarta supaya operasi penaklukkan tersebut bisa berjalan lebih cepat. Setelah bulan Oktober 1832, banyak sekali daerah-daerah yang sudah ditaklukkan oleh Belanda. Kaum Padri terdesak dari mana-nama dan kemudian bertahan di wilayah Bonjol. Pada awal tahun 1833, kubu kaum ulama sempat melakukan balas dendam dengan menyerang benteng pertahanan Belanda. Penyerangan yang dipimpin oleh Tuanku Rao tersebut berhasil melumpuhkan pasukan Belanda. Sayang sekali, kemenangan itu tidak bertahan lama. Karena kalah persenjataan, pasukannya harus terpaksa mundur. Terlebih lagi, sang pemimpin terluka parah karena ditembaki tanpa ampun oleh Belanda. Akhir hidup Tuanku Rao bisa dibilang sangat mengenaskan. Dalam keadaan sekarat, ia ditangkap oleh Belanda untuk diasingkan. Ketika dalam perjalanan ke tempat pembuangan, ia meninggal dunia dan jasadnya di buang ke laut. Serentak Melawan Belanda Peristiwa di atas kemudian semakin menumbuhkan semangat persatuan rakyat untuk mengusir Belanda dari Minangkabau. Seperti yang telah kamu tahu, kaum Padri dan Adat telah setuju untuk menggabungkan kekuatan. Keadaan menjadi semakin memanas setelah banyak benteng pertahanan Belanda diserang. Korban tewas dari kedua belah pihak tentu saja tidak terhindarkan. Di tengah kekacauan tersebut, Belanda menangkap Sultan Tangkal Alam karena dianggap berkhianat. Ia ditengarai ikut menyerang benteng pertahanan milik mereka. Meski sempat menyangkal, ia tetap saja dicopot dari jabatan sebagai Regent Tanah Datar lalu dibuang ke Batavia. Namun dari peristiwa tersebut, pihak Belanda kemudian menyadari kalau kedua kaum yang berseteru itu telah bekerja sama. Untuk sedikit meredam situasi, pemerintah Belanda kemudian mengeluarkan sebuah pengumuman, yaitu Plakat Panjang. Isinya adalah Belanda datang ke sana hanya untuk berdagang, bukan untuk menguasai. Selain itu, mereka akan membangunkan jalan dan sekolah. Tentu saja itu hanya pemanis belaka karena mereka mengharapkan rakyat untuk menanam kopi dan harus menjualnya kepada Belanda. Baca juga Informasi tentang Prasasti Bersejarah Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang Perlu Kamu Ketahui Usaha Penyerangan Benteng Bonjol Wilayah Benteng BonjolSumber Wikimedia Commons Pada tanggal 23 Agustus 1833, Van den Bosch datang ke Padang. Ia menanyakan mengapa penaklukkan di daerah tersebut berjalan begitu lambat. Setelah itu, para petinggi Belanda di Hindia Belanda melakukan pertemuan. Hasilnya adalah sebelum tanggal 16 September 1833, mereka harus sudah menjatuhkan markas utama milik kaum Padri, yaitu Benteng Bonjol. Sementara itu, kaum Padri dan Adat mengetahui mengenai rencana serangan Belanda. Mereka kemudian mengatur siasat perang. Dalam perang Padri kali ini, mereka akan menggunakan taktik serangan gerilya. Ketika waktunya tiba, strategi gerilya tersebut ternyata cukup ampuh untuk menghalau serangan pasukan Belanda. Mereka bahkan bisa merampas persenjataan milik pasukan lawan. Penyerangan kali ini dianggap sebuah kegagalan. Pada tahun 1834, Belanda kemudian fokus untuk membangun infrastruktur jalan menuju Benteng Bonjol. Selain untuk memperlancar mobilitas, gunanya adalah supaya lebih mudah mematahkan strategi gerilya milik lawan. Setelah selesai, pasukan Belanda mulai bergerak untuk menyerang Benteng Bonjol dengan dipimpin oleh Letnan Kolone Bauer. Pertempuran pun pecah di daerah Sipisang yang merupakan daerah basis kaum Padri. Pertarungan yang terjadi selama tiga hari tiga malam tersebut akhirnya dimenangkan oleh Belanda. Pasukan Padri terdesak dan kemudian bersembunyi ke hutan. Daerah itu pun dikuasai dan dijadikan basecamp Belanda untuk sementara. Selanjutnya, Belanda semakin bergerak mendekati Benteng Bonjol. Setelah semakin dekat, mereka kemudian menembaki benteng menggunakan meriam. Baca juga Kisah Lengkap tentang Sultan Maulana Hasanuddin, Sang Pendiri Kerajaan Banten Benteng Bonjol Berhasil Dikepung Pasukan Belanda berhasil mengepung wilayah sekitar Benteng Bonjol yang terletak di atas sebuah bukit bernama Tajadi. Meskipun terkepung, tentu saja kaum Padri tidak menyerah begitu saja. Lagipula, benteng tersebut sudah ditata sedemikian rupa sehingga tidak mudah diambil alih. Untuk semakin menekan pihak lawan, Belanda kemudian memblokade semua akses yang menuju ke benteng tersebut. Pada awalnya, mereka bertujuan untuk menghentikan pasokan senjata dan makanan. Namun, hal tersebut malah menjadi boomerang. Pasalnya, kaum Padri akhirnya secara diam-diam mengambil perbekalan milik Belanda. Selain itu, kaum ulama tersebut tetap mendapatkan bala bantuan dari simpatisannya yang berada di luar wilayah benteng. Pertarungan yang sengit antara kedua kubu terus terjadi. Pada bulan Agustus 1935, pihak Belanda menyerang benteng setelah mendapatkan bantuan dari Bugis. Selanjutnya, serangan itu dibalas oleh kaum Padri dengan menyerang markas pertahanan Belanda sebulan kemudian. Kedudukan mereka masih sama-sama kuat sehingga keadaan bertahan seperti itu selama beberapa waktu. Akan tetapi, keadaan itu pula yang pada akhirnya membangkitkan semangat juang dan keberanian rakyat di sekitar benteng untuk menyerang Belanda. Tidak main-main, mereka bahkan berhasil membuang bangsa penjajah itu menjadi kewalahan. Baca juga Peninggalan-Peninggalan Bersejarah Milik Kerajaan Aceh Darussalam yang Masih Ada Hingga Sekarang Akhir dari Kisah Sejarah Perang Padri Kemenangan BelandaSumber Wikimedia Commons Perang Padri merupakan salah satu perang yang paling lama dalam sejarah. Bahkan semenjak penyerangan Benteng Bonjol pertama, Belanda baru benar-benar bisa menaklukkan setahun kemudian. Kegigihan kaum Padri yang didukung oleh rakyat untuk mempertahkan benteng tersebut memang sangatlah luar biasa. Namun sepertinya memang perjuangan pada waktu itu memang sudah harus menemui titik akhirnya. Pada tanggal 3 desember 1836, pasukan Belanda akhirnya mengadakan serangan besar-besaran. Mereka menyerang benteng dari segala penjuru. Kali ini, penjajah tersebut berhasil menjebol pertahanan sehingga dapat masuk ke dalam benteng. Pertumpahan darah tidak dapat dihindarkan. Banyak sekali korban jiwa yang jatuh dari kedua kubu. Meskipun begitu, masih belum dapat melumpuhkan kekuatan kaum Padri. Hingga kemudian, pada bulan Maret tahun 1837, Belanda berusaha lagi untuk melumpuhkan kekuatan lawan dengan membawa lebih banyak pasukan. Lebih dari tentara didatangkan dari berbagai daerah untuk menyerang benteng Bonjol. Selama kurang lebih enam bulan, pasukan tersebut terus menerus melakukan serangan. Hingga akhirnya, mereka berhasil mengambil alih Benteng Bonjol pada tanggal 16 Agustus 1837. Penangkapan Tuanku Imam Bonjol Ketika Benteng Bonjol dapat ditaklukkan oleh Belanda, Tuanku Imam Bonjol beserta para pengikutnya berhasil melarikan diri. Selama dalam pelarian itu, ia berusaha untuk mengatur siasat meskipun pasukannya tercerai berai dan tinggal sedikit. Sayangnya, masa pelarian itu tidaklah lama. Dengan menggunakan tipu daya, pemimpin kaum Padri tersebut dapat ditangkap oleh Belanda pada tanggal 28 Oktober 1837. Ia kemudian diasingkan ke Cianjur. Setelah itu dibuang lagi ke Ambon pada akhir tahun 1838. Tak berhenti di situ, Tuanku Imam Bonjol kemudian dipindahkan lagi ke Lotta, Minahasa. Selama kurun waktu 27 tahun, ia menjalani masa pengasingan di tempat tersebut. Ia meninggal dunia di sana pada tanggal 8 November 1864. Dalam catatan sejarah, penangkapan Tuanku Imam Bonjol bukanlah akhir dari Perang Padri. Peperangan melawan Belanda masih tetap dilanjutkan oleh Tuanku Tambusai. Namun, pasukannya tidak bertahan lama. Akhirnya di penghujung tahun 1838, wilayah Kerajaan Paguruyung resmi jatuh ke tangan Pemerintah Belanda. Hal ini kemudian menandakan berakhirnya perang yang sudah terjadi selama puluhan tahun itu. Baca juga Informasi Lengkap tentang Ken Arok, Sang Pendiri Kerajaan Singasari yang Punya Masa Lalu Kelam Ulasan Lengkap tentang Sejarah Perang Padri Demikianlah informasi lengkap mengenai sejarah Perang Padri yang dapat kamu simak di sini. Cukup panjang memang, tapi semoga saja dapat menambah wawasanmu setelah membacanya, ya! Nah, di PosKata kamu nggak hanya bisa mendapatkan ulasan mengenai masa-masa penjajahan di Indonesia saja, lho. Kalau ingin membaca tentang sejarah kerajaan-kerajaan ada di nusantara juga bisa. Tidak hanya kerajaan bercorak Islam seperti Samudra Pasai, Aceh Darussalam, dan Mataram Islam saja, kok. Akan tetapi, ada juga tentang kerajaan Hindu-Buddha seperti Sriwijaya, Tarumanegara, Singasari, dan masih banyak lagi. Jadi, tunggu apalagi? Cek terus PosKata, ya! PenulisErrisha RestyErrisha Resty, lebih suka dipanggil pakai nama depan daripada nama tengah. Lulusan Universitas Kristen Satya Wacana jurusan Pendidikan Bahasa Inggris yang lebih minat nulis daripada ngajar. Suka nonton drama Korea dan mendengarkan BTSpop 24/7. EditorElsa DewintaElsa Dewinta adalah seorang editor di Praktis Media. Wanita yang memiliki passion di dunia content writing ini merupakan lulusan Universitas Sebelas Maret jurusan Public Relations. Baginya, menulis bukanlah bakat, seseorang bisa menjadi penulis hebat karena terbiasa dan mau belajar. PerangAceh Setelah Perang Padri berakhir, pada tahun 1873 di Sumatera berkobar lagi perlawanan terhadap Belanda yakni Perang Aceh. Penyebab terjadinya Perang Aceh terutama karena nafsu Belanda untuk menguasai daerah ini. Sebelumnya, mereka tidak berani menduduki Aceh karena terikat Traktat London 1824.

Sejakperlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).

Peperanganini dimulai dengan munculnya gerakan Kaum Padri (Kaum Ulama) dalam menentang perbuatan-perbuatan yang marak waktu itu di kalangan masyarakat yang ada dalam kawasan Kerajaan Pagaruyung sekitarnya, seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat , minuman keras, tembakau, sirih, dan juga aspek hukum adat matriarkat mengenai

Untuklebih jelas dari Perang Paderi ( Padri ) dan berbagai macam yang menyangkut Perang Padri, simak ulasannya berikut ini. Perang Paderi ( Padri ) Tahun " 1821-1837 " Perjuangan rakyat di daerah Sumatera Barat ( Minangkabau ) melawan pihak Belanda sering disebut dengan nama perang Padri yang telah berlangsung pada tahun 1821-1837.

Perlawananterhadap penjajahan Portugis dilakukan di berbagai daerah untuk memperjuangkan kemerdekaan. Perlawanan rakyat Maluku dipimpin oleh Sultan Ternate. Pada tahun 1533, Sultan Ternate menyerukan kepada seluruh rakyat Maluku untuk mengusir Portugis di Maluku. Danmasih banyak lagi perlawanan-perlawanan di berbagai daerah di Indonesia dalam rangka menentang kolonialisme dan imperialism bangsa barat. Diantaranya seperti Perang Padri, perlawanan rakyat Batak, Perang Bali, Peran Banjar, perlawanan Sultan Hasanuddin, perlawanan Sultan Agung, dan lain-lain. ViewBENTUK MATH 23 at Jakarta State Polytechnic. BENTUK-BENTUK PERLAWANAN RAKYAT DALAM MENENTANG KOLONIALISME BARAT DI BERBAGAI DAERAH 1. Perlawanan Pattimura (1817) a. Latar 63ipE.
  • n0x7p3wa61.pages.dev/551
  • n0x7p3wa61.pages.dev/735
  • n0x7p3wa61.pages.dev/840
  • n0x7p3wa61.pages.dev/408
  • n0x7p3wa61.pages.dev/796
  • n0x7p3wa61.pages.dev/563
  • n0x7p3wa61.pages.dev/839
  • n0x7p3wa61.pages.dev/39
  • perlawanan rakyat di berbagai daerah seperti perang padri